Minggu, 09 September 2012

Kamis, 19 Juli 2012

Marhaban Ya Ramadhan (30 Hari Mencari Cinta -Nya)


Tak terasa esok telah menjelang bulan Ramadhan, bulan beribu bulan, bulan suci nan agung. Ya Allah, bagi hamba mu yg menginginkan syurga tak ada lagi bulan yg dirindukan dan dinantikan selain bulan Ramadhan Mu. Tentu, ya Allah, tentu aku pun mengharapkan perjumpaan lagi dengan hadiah indahMu bernama Ramadhan ini! Aku pun merindukan RamadhanMu.
Namun terkadang aku pun bertanya dalam hatiku : “adakah layak aku bertemu tamu agung dariMu ini?”. Begitu banyak janji yg kubuat kepadaMu pada Ramadhan yg lalu, begitu banyak yg ku abaikan dan kulupakan begitu dia berlalu. Karenanya layakkah aku menjumpai RamadhanMu ini?
Aku bersyukur ya Allah, kau beri aku sungai deras berair jernih bernama Ramadhan, tempat aku mandi mencuci dosa-dosaku.
Aku yakin, jauh lebih banyak dosa yang kubuat dalam setahun ini dari pada dosa yg kubasuh dengan shalat wajibku, dengan sholat tahajudku, dengan shalat dhuha ku, dengan puasa dan istighfar ku.
Maka ya Allah, segala puji bagi Mu yg mengantarkan aku sampai kepada sungai ampunan bernama Ramadhan.
Aku bergegas ya Allah, aku bergegas.
Aku berlari ya Allah, aku berlari menuju ampunanMu wahai Allah Maha pemberi Taubat. Izinkanlah aku, tolonglah aku, merebut Ramdhan terbaik kali ini.
Ramadhan yg ku isi dengan keikhlasan menyembahMu.
Ramadhan yg kutandai dengan ibadah terbaik.
Ramadhan yg kuisi dengan muamallah dan silaturrahim terbaik.
Ramadhan yg kujalani hanya karena Engkau.
Ramadhan yg Ikhlas karena Engkau.
Ya Allah jadikanlah Ramadhanku ini sebuah Ramadhan yg penuh ampunan dan keselamatan dari kehancuran. Jadikanlah Ramdhan ini Ramadhan terbaik bagiku.
Perkenankanlah ya Allah... aamiin J

MY RAMADHAN GOALS (30 Hari Mencari Cinta-Nya)

  • Menghatamkan Al-Quran, setidaknya satu kali
  • Mengkaji dan Memahami Tafsir Al-Quran
  • Membina Ruhiyah lewat Dzikir dan Istighfar
  • Memperbaiki Akhlak
  • Meningkatkan Iman dan Taqwa
  • Shalat tepat Waktu
  • Lebih khusyu dan Memahami makna bacaan sholat
  • Memperbanyak sholat Tahajud
  • Perbanyak Istighfar dan Taubat
  • STOP !! Berbohong, Ghibah dan Marah gak jelas !
  • Mengurangi nonton TV
  • Mulai mengikuti Program studi Al-Quran
  • Membaca buku dan majalah islami
  • Mendengarkan CD, Kaset, MP3, atau Radio Islami
  • Perbanyak Sedekah
  • Menambah Sholat Sunnah
  • Silaturahmi

Rabu, 18 Juli 2012

23 Tahun Lalu


23 tahun yang lalu seorang bayi putih nan jelita dilahirkan kedunia ini, kedatangannya disambut dengan penuh suka cita, seorang bayi perempuan yang amat dinanti oleh sebuah keluarga kecil. Aku di lahirkan dengan penuh perjuangan, terlebih pada saat ibu merasa mulas-mulas ayah sedang tidak ada dirumah, ayah sedang sibuk di masjid mengurusi hewan-hewan Kurban. Ya aku ini lahir bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1410H atau 13 Juli 1989M. Pada saat itu hanya ada ibu dan kakak laki-laki ku, tanpa berfikir panjang ibu pun meminta bantuan tetangga untuk memanggilkan ayah agar segera pulang. Teringat jelas dalam ingatan ibu, pada saat itu baju ayah penuh dengan darah kambing dan hewan sembelihan, bahkan noda darah ditangannya pun masih terlihat basah, mungkin karena panik ketika dipanggil ayah pun langsung pulang kerumah tanpa sempat bersih-bersih dulu. Dan pada saat kondisi itu pun ayah membawa ibu dan kakak ku ke Rumah Sakit, tapi entah apa yang terjadi akhirnya ibu pun dibawa pergi kembali, mungkin karena pada saat itu hari Raya besar jadi dokter-dokter di RS pun pada libur. Lalu pada akhirnya ibu dibawa ke bidan terdekat, tapi perjuangan ibu tidak berakhir sampai disitu, kata bidan ada sedikit masalah pada bayinya jadi tidak bisa dilahirkan secara normal, jadi mau tidak mau keinginan ibu untuk melahirkan aku secara normal pun kandas, ibu dan ayah pun mengambil keputusan untuk mengeluarkan ku secara Operasi Sesar. Dengan sedikit aroma-aroma kambing ibu pun masuk kedalam ruang operasi sedangkan ayah dan kakak ku berjaga diluar. Ayah ingin sekali menemani ibu disamping nya tapi kasian kakak ku tidak bisa ditinggal karena saat itu pun kakak baru berumur 3 tahun.

Selang beberapa jam, alhamdulillah rona kekhawatiran yang ayah tampakkan sebelumnya kini telah berubah menjadi rona bahagia, “Subhanallah, betapa cantiknya bayi perempuanku”, pada saat itu ayah pun langsung mengadzani ku.
Karena aku lahir kedunia ini tepat pada hari raya Idul Adha, nenek ku pun ikut andil dalam pemberian namaku karena aku adalah cucu ketiganya yang lahir, nenek memberi ku nama Zulfah karna tepat pada bulan Dzulhijjah.  Kata ayah zulfah itu gabungan dari dua kata Dzulhijjah dan Ulfah, Ulfah dalam bahasa arab artinya Lembut. Dan pada akhirnya terciptalah sebuah nama yang cukup panjang namun sangaaaaat bermakna dan memiliki arti yang indah. SITI ZULFAH ULHAQ NAHARANY artinya Wanita Lemah lembut yang Berkorban demi Kebenaran. Subhanallah begitu indahnya namaku.

Tapi dilahirkan di saat Idul Adha juga punya efek yang dahsyat untuk aku pribadi, entah ini ada tali merahnya atau tidak tapi aku jadi paling gak suka sama yang namanya daging kambing, setiap kali idul adha pasti aku yang merasa paling merana karena satu rumah aromanya berubah jadi kandang kambing udah gitu ibu pun masaknya serba kambing, jadilah beberapa hari selama stok daging kambing masih ada aku berubah jadi “nelor” karena apa lagi yg bisa aku makan selai telor, beruntunglah pada saat itu masih banyak ayam yg bertelur.. :p Entah kenapa aku amat anti pati sama kambing, mungkin karena aromanya yg ga enak terlebih dagingnya juga bikin eneg. Atau ini emang efek gara2 ayah yg bajunya berlumur darah dan aroama kambing pada saat ibu ingin melahirkan aku. Hmmmm...bisa jadi.. :D :p

Dilahirkan kedunia ini aku merasa sangat beruntung, aku beruntung karena memiliki kedua orang tua yang amat sangat menyayangiku, mereka adalah orangtua terhebat yang aku miliki. Memiliki satu orang kaka dan adik laki-laki membuat aku menjadi tambah istimewa dan beruntung karena aku adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluargaku, perhatian lebih dari orangtua ku pun aku rasakan. Tapi perhatian itu bukanlah perhatian dalam memanjakan diriku, ibu dan ayah selalu adil dalam memperlakukan anak-anaknya, tidak ada yang merasa di nomor satukan ataupun diasingkan

Sekarang usia ku sudah 23 tahun, bukan lagi dibilang anak-anak, ABG ataupun remaja. 23 itu usia yang sudah cukup dewasa, dewasa dalam bertindak dan juga berpola pikir. Alhamdulillah diusiaku saat ini aku sudah dapat menyelesaikan S1 ku tepat pada waktunya bahkan aku mendapatkan gelar sarjanaku pada saat usiaku 21 tahun. Sudah 2 tahun dari masa prosesi pemindah talian toga, seharusnya aku sudah punya mata pencaharianku sendiri, sudah bukan saatnya lagi untuk aku terus-terusan membebani kedua orangtuaku. Sudah menjadi kewajibanku saat ini untuk bisa sedikit demi sedikit membalas jerit payah mereka untuk ku, walaupun aku tau apa yg sudah mereka lalukan selama ini tidak akan pernah bisa aku balas penuh.

Aku jadi teringat perkataan Bapak ku Pak Syafi’ie Antonio, dalam suatu pengajiaan bulanan dikampus pada saat sesi pertanyaan ada seorang ibu yang mengucapkan selamat milad kepada pak Syafiie. Lalu pada saat itu pa Syafiie pun berkata, Umur kita itu ada dua jenis : 
1. umur Biologis / KTP dan 2. umur Ilmu, Kontribusi, dan Karya.
Alhamdulillah pada saat itu beliau sudah meranjak usia 50 tahun (kalau tidak salah), akan tetapi beliau jauh lebih bersyukur jika umur Ilmu, Kontribusi dan Karya nya itu bisa lebih dari 50 tahun, karena bagi beliau apalah artinya umur yang bertambah tua akan tetapi jika Ilmu, kontribusi dan karya yg kita berikan tidak bertambah dan bertambah.

Saat ini umurku 23 tahun, tapi sudah berapa tahunkah umur Ilmu, kontribusi dan Karyaku???? Aku ingin selalu merasa kalau aku masih berumur 17 tahun tapi amal kebaikan ku telah lebih dari 23, 40, 50, atau bahkan 70 tahun.
Betapa bahagia dan beruntungnya jika aku bisa menjalani hidup ku jauuuuuh lebih bermanfaat, karna kita hidup didunia ini tidak abadi dan tidak ada yang lebih berharga dan kekal dari Ilmu dan amal yang kita miliki.

Karena sejatinya hidup bukanlah bilangan waktu yang berulang, melainkan hidup adalah bilangan amal kebaikan yang terus diulang. Berulangnya waktu bukanlah urusan manusia. Tetapi itu adalah urusan Allah SWT. Orang yang baik tidak peduli dengan berulangnya waktu, namun seharusnya lebih peduli dengan amalnya seiring dengan berulangnya waktu.
Orang seperti ini, berarti telah selesai dengan dirinya jika ditanya soal berapa umurnya hari ini. Karena yang mengusiknya bukan telah berapa tuanya ia saat ini, melainkan sudah berapa amal kebaikan yg ia kerjakan dengan waktu yg semakin tua selama ini.

Sabtu, 28 April 2012

" Hidup itu bagaikan Gelombang, terkadang berada di atas, terkadang berada di bawah dan pasti akan sampai pada ujung akhirnya."

Kehidupan

Aku gak pernah ngira kalau saat ini kehidupan keluarga kami akan seperti ini.
berada dalam situasi yang serba TERBATAS bagaikan ada di ujung tombak, yang perlahan-lahan siap untuk menikam kehidupan kami. tak pernah terbayangkan oleh ku kalau peristiwa seperti hari ini terjadi. dulu semua itu hanya ada dalam cerita-cerita kehidupan orang lain dan tak pernah aku harapkan untuk terjadi di dalam kehidupan NYATA keluarga ku.
Ya walaupun aku tau aku menjalani kehidupan yang terbatas ini bukan baru sehari atau dua hari tapi aku mulai merasakan kehidupan seperti ini semenjak ayah mulai sering sakit-sakitan dan ayah pun memutuskan untuk Pensiun. Pemasukan untuk kehidupan kami hanya diandalkan dari gaji pensiun seorang PNS yang tidak seberapa banyak. belum lagi banyak nya tanggungan yang kami miliki. 
Hari ini, ya tepat hari ini dari pagi hari sejak bangun tidur ibu di pusingkan dengan akan masak apa kita hari ini, persediaan beras yang begitu Limit dan tidak ada nya persediaan lauk-pauk pun membuat ibu  pagi ini uring-uringan. disaat seperti ini aku tau ibu sangat sensitif dan mudah sekali marah. Sehingga aku pun enggan untuk berkomentar apapun. Asal kau tau faktanya saat ini kita memang sedang tidak memegang uang sepeser pun bahkan untuk Seribu rupiah saja ayah mesti merogoh-rogoh kantong siapa tau ada selembar uang yang terselip. Untuk memenuhi kebutuhan seharian ini entah dari mana bisa kita peroleh, aku tidak berani memikirkan untuk meminjam kanan atau kiri. karena aku pun tak ingin menambah pundi-pundi tanggungan di kehidupan kami. Tapi tidak dengan ibu, dengan terpaksa pagi ini ibu menahan malunya untuk pergi belanja ke tukang sayur dengan ngebon, hanya demi semangkok sayur plus tahu tempe, agar kami tidak kelaparan ibu berani mengambil pilihan itu. Awal aku tidak tau kalau ternyata Makanan yang telah tersaji itu adalah hasil utang ibu ke tukang sayur, ketika sedang menikmati makanan tiba-tiba saja ayah berucap "Alhamdulillah kita masih bisa menikmati beras yg lembut dan makanan yang enak, walaupun sebenarnya masakan hari ini adalah hasil ngebon ibu di tukang sayur", Tuhan rasanya nasi yang sudah sampai kerongkongan aku ini enggan untuk turun, tersendat dan terhambat. apa yang telah terjadi hari ini, bagaikan ingin menangis mendengar pernyataan ayah tadi. Tapi tidak, aku tidak boleh menunjukan kesedihan ini di depan mereka, perlahan sesuap demi sesuap aku mencoba untuk menikmati makanan ini. Bagaimana bisa aku meminta makanan yang lebih enak dari ini kalau aku tau kenyataan apa yang terjadi saat ini. bahkan walau hanya makan dengan tahu tempe disaat lapar dan keterbatasan seperti ini pun rasanya tetap saja nikmat.
Kejadian hari ini tidak sampai disitu saja, siang tadi adik ku yang sedang kuliah dan ngekos disalah satu bilangan elite Bogor memberikan kami kabar lewat sms, "Yah uang aku tinggal 5 ribu lagi, itu hanya untuk bekal makan nanti malam. dan kebutuhan ku yang lainnya juga sudah mau abis (sabun, odol, dkk)". sontak ayah tak kuasa menahan air matanya, terlihat jelas di mataku ayah sedang menyeka air mata yg jatuh di pipinya, sambil berat ayah mengucapkan "innalillahi, ya allah gantikan lah kesulitan kami ini dengan kemudahan, gantikan kesempitan kami dengan kelapangan..anakku disana saat ini sedang butuh biaya untuk kehidupannya.." dalam hati rasanya ingin sekali menjerit, betapa bodohnya aku sebagai anak dan seorang kakak, dalam hati ku berucap "Ya Allah dengarkan dan saksikanlah jeritan hati kami ini." Tapi disaat-saat sulit seperti ini ayah tidak pernah membuat hati kami menjadi terpuruk, ayah selalu memberikan nasehat yang bijak untuk kami, "Jangan pernah berkata *tinggal* 5 ribu lagi, tapi bilang lah *masih ada* 5 ribu lagi. karena kita tidak akan pernah tau betapa baiknya rencana Allah untuk kita". 
Ayah pun pada akhirnya mencoba untuk menghubungi keponakannya, kakak sepupuku. meminta bantuan nya untuk mentransfer sedikit dana untuk adikku disana. Alhamdulillah kakak sepupuku bersedia untuk mentransferkan sedikit dananya. Satu masalah bisa teratasi hari ini, tapi tetap aku punya kewajiban untuk mengganti semua itu. Seusai sholat magrib ayah berkata "Alhamdulillah hari ini telah kita lewati, disaat keadaan *miskin* itu seharusnya kita tidak perlu mengumumkan kesulitan kita kepada orang-orang, cukup kita dan Allah saja yang tau semua itu, tapi apabila kita butuh bantuan ya kita berceritalah dengan orang yang benar-benar sudah menjadi keluarga dekat dan seyogianya bisa membantu meringankan beban kita. Tapi tetap pada saat apapun yang pertama dan paling utama yang kita ingat yaitu ALLAH,,,ALLAH dan ALLAH. karna semuanya ada pada genggaman ALLAH. Allah yang mempunyai setiap kejadian ini dan ayah harapkan apa yang sedang terjadi pada keluarga kita saat ini jangan pernah membuat kamu pesimis dan patah arang, justru kamu harus bisa mengambil pelajaran dari semua ini dan menjadikan kamu kuat. Hidup ini tidak akan indah jika berjalan mulus tanpa rintangan, jadikan semua ini sebagai proses kehidupan dan membuat kamu dewasa dalam menyikapi nya". Mematung sesaat mendengar nasehat ayah untuk ku, aku hanya bisa menganggung tanda aku mengerti apa maksud dari perkataan ayah malam ini. Sejujurnya aku paling tak kuasa ketika ayah bercerita tentang kesulitan yang selama ini kami hadapi, karena enggan untuk menampakkan langsung, ketika masuk kamar aku baru bisa menumpahkan air mata yang telah ku tahan sejak siang hari tadi.....

Sabtu, 24 Maret 2012

Selembar Kertas

Malam ini Lagi asik-asiknya ngeberesin laci meja belajar, aku menemukan sesuatu yang terlihat biasa saja bahkan agak kurang menarik karna itu hanyalah selembar kertas yg pinggirannya telah terkoyak. Tapi tidak dengan tulisan yg ada di selembar kertas itu. Ya...itu semacam selembar kertas surat, walaupun terlihat seperti note.. Tapi benar saja setelah ku baca ulang tulisan di kertas itu, aku kembali teringat ternyata itu adalah selembar kertas surat dari sahabat kecil ku, sahabat sepermainanku dikala sekolah dasar, sahabat yang saat ini menjadi inspirasi hidupku..

Walaupun tulisannya terlihat tak rapih, tapi surat itu benar2 bikin hati ku #Galau. Bukan...bukan galau karna masalah hati atau perasaan,melainkan aku merasa galau dgn kehidupanku saat ini.
Karna surat itu aku terima darinya sudah lama sekali mungkin sekitar 3 tahun yg lalu ketika kita masih sama2 menduduki bangku kuliah. Mungkin dulu ketika ku membaca surat itu hatiku masih bisa tersenyum dan dengan lantang nya mengucapkan "kita pasti bisa kawan" :)

Tapi kini setelah ku menemukan kembali surat itu dan ku baca ulang isinya, rasanya bukan senyum yg keluar dr bibirku melainkan air mata yg tanpa sadar menetes.. T.T
Bukan aku tidak percaya diri untuk menjalani kehidupan ku sendiri, tapi entah kenapa saat ini aku jadi merasa malu pada diriku sendiri, karena sampai saat ini aku belum bisa memutuskan apa terbaik untuk diriku sendiri, sedangkan dia saat ini sedang memperjuangkan Pendidikan anak Bangsa di daerah pedalaman Maluku sana *Indonesia Mengajar*. Dia memang orang yg periang dan aktif kalau dibandingkan dengan dia cerita pengalaman hidupnya jelas lebih banyak ketimbang diriku. Bagaikan kutub utara vs selatan -- Passive vs Active. =="



Isi suratnya kurang lebih seperti ini....

Dear : Zulfah
Ass....
Pah apa kabar?!!
Katanya kemarin2 sakit ya... pah jangan lupa jaga kesehatan tubuh.
Pah, gede ntar lu pgn jadi ape?! pah, kita sama-sama jd orang yg berguna ya! jangan mau dibodoh2in. kita harus belajar yg rajin. Pah, lu pengen jadi akuntan atau ahli ekonomi syariah :)
Ciee..upah "Siti zulfah ulhaq naharani, SE" subhanallah.
hati2 pah sama Gelar yg kita sandang. semua ini kita akan pertanggung jawabkan.

pah, cita-cita gw pengen jadi Presiden (pgn jadi orang yg bisa memimpin), gw pengen punya pesantren gede yg isinya anak2 gak mampu, tp punya potensi untuk jadi orang mampu. Bantu gw gapai semua ini ya pah !! Gw juga pasti harus bantu lu. Kita harus bantu sama2 temen2 kita ya pah... Allahu Akbar....
-Ratih-


Kalimat yg paling #Jleeb banged itu "hati2 pah sama Gelar yg kita sandang. semua ini kita akan pertanggung jawabkan." bukannya aku baru tau hal itu, tp kalimat itu bener2 bikin aku kembali sadar dan benar apa yg ditulis oleh sahabatku, dulu semasa kuliah aku excited banged untuk bisa mendapatkan gelar itu, serasa ada suatu kebanggaan dalam diri. tapi kini setelah aku LULUS dan mendapatkan nya. Gelar itu seakan tak berasa special bahkan aku jadi cenderung merasa terbebani dgn SEI ku itu. *Astagfirullah...
Sedangkan saat ini dia rela meninggalkan S2 Hukum nya demi membangun jembatan untuk menggapai apa yg dia cita-citakan sejak dahulu..

Yaa aku tau, kita punya jalan hidup masing-masing, aku dengan jalan hidupku dan dia dengan jalan hidupnya.. Masa depan kita akan menjadi cerah atau suram itu semua ada di tangan kita sendiri. "Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mau berubah"
dan "PERUBAHAN tak akan pernah TERCIPTA tanpa ada nya ACTION."
Dan aku tetap yakin untuk melantangkan kembali "Kita Pasti Bisa Kawan" \(^o^)/ #MoveOn